Makhluk Mini Pengisi Tangki

Makhluk Mini Pengisi Tangki
Oleh trubusid
Senin, Maret 03, 2008 11:08:03
Mata setajam elang pun sulit menangkap makhluk mini itu karena ukurannya hanya 0,2 µm setara debu. Namanya Chlorella sp. Meski mungil, ia mampu melajukan mobil hingga 100-an km per jam. Itu setelah ia diolah menjadi biopremium. Untuk mengembangkannya tak perlu lahan luas. Panen pun singkat: cuma sepekan setelah ‘tanam’.Alga Chlorella menjadi alternatif bahan baku biopremium setelah komoditas nira, singkong, atau sorgum yang lebih dulu sohor. Selain alga, semua bahan baku bioetanol itu lazim dikembangkan di lahan luas dan subur. Dibanding sumber nabati lain, alga paling ekonomis menghasilkan bioetanol. Musababnya, ganggang hijau itu kaya karbohidrat, tak memerlukan perawatan khusus, dan mudah tumbuh.

Chlorella termasuk alga mikro karena ukuran tubuhnya sangat renik dari 0,2 µm hinga 0,02 cm (10-6 – 10-4 m). Untuk melihat wujudnya dengan jelas kita memerlukan mikroskop. Tidak semua jenis alga mikro hidup sebagai fitoplankton, tetapi semua jenis fitoplankton bisa digolongkan ke dalam alga mikro. Tumbuhan mikroskopis bersel tunggal dan berkoloni itu terdiri atas 30.000 spesies. Habitatnya di atas permukaan air, di kolom perairan, atau menempel di dasar dan permukaan lain dalam perairan.

Dari penelitian sejak 2007 di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, membuktikan tumbuhan bersel satu itu mampu menghasilkan bioetanol. Anggota famili Chlorophyeceae itu kaya karbohidrat yang penting dalam pembuatan bioetanol. Kadar karbohidratnya 29-31% setara karbohidrat dalam singkong. Singkong berkadar pati 23% sehingga untuk menghasilkan seliter bioetanol perlu 6,5 kg. Dengan bahan baku Chlorella sp, jumlah biopremium yang dihasilkan 100 kali lipat, karena pemanenan dapat dilakukan berkali-kali.

Tumbuh cepatWalau ukurannya sangat mikroskopis, Chlorella tetap memiliki zat hijau daun berupa pigmen kloroplas dalam tubuhnya. Pigmen itulah yang menyebabkan ia bisa melangsungkan proses fotosintesis. Fotosintesis berlangsung dalam jaringan tilakoid lantaran ia tanpa memliki daun. Jaringan itu berperan pula sebagai penghubung antarkloroplas. Karena berfotosintesis, maka organisme yang hidup di atas permukaan air itu juga mampu menghasilkan karbohidrat.

Baca entri selengkapnya »

Komentar (2)

Menghemat BBM dengan air

Menghemat BBM dengan air
Oleh energiportal

Rabu, Mei 28, 2008 11:15:29

Kenaikan harga BBM baru-baru ini tak pelak lagi ikut mendorong naiknya ongkos angkutan umum. Dengan income yag tetap, maka secara tidak langsung beban anggaran belanja dalam sebuah rumah tangga ataupun pribadi juga bertambah. Seolah tidak ada lagi celah untuk melakukan penghematan. Alternatif bahan bakar pengganti BBM pun belum menemukan jalannya.

Tetapi ada sebuah harapan baru bagi sebagian besar pemilik kendaraan bermotor, kaitannya dengan penghematan bahan bakar. Angin segar yang berhembus dari Kota Gudeg, Yogyakarta, memberikan sedikit celah bagi para pemilik kendaraan bermotor untuk bisa berhemat.

electrolizer, alat hasil pengembangan Djoko Sutrisno, pria kelahiran Yogyakarta 8 Mei 1957, bisa mengubah air menjadi suplemen bahan bakar. Electrolizer tersebut tidak mengubah air menjadi pengganti BBM, tetapi hanya meningkatkan kadar oktannya.

Berbeda dengan alat penghemat bahan bakar yang menggunakan prinsip MHD (Magneto Hydro Dynamics), yang bekerja dengan menarik partikel-partikel BBM menggunakan magnet agar lebih mudah dibakar di dalam silinder mesin, electrolizer bekerja hanya dengan menambahkan hidrogen ke dalam proses pembakaran.

Proses elektrolisa untuk memisahkan hidrogen dari air bukanlah hal baru. Berbagai macam eksperimen telah dilakukan di banyak negara beberapa dekade yang lalu hingga sekarang. Tetapi di Indonesia, alat yang diciptakan oleh Djoko Sutrisno tersebut dapat dibuat dengan sangat mudah oleh siapapun dan langsung bisa diterapkan tanpa ada embel-embel komersial.

Baca entri selengkapnya »

Komentar (1)

Membuat PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro)

Berikut merupakan ilustrasi sederhana dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro. Baca entri selengkapnya »

Komentar (1)

Proyek Listrik 10.000 MW Kedua Butuh Rp 100 Triliun

Setelah proyek pembangkit listrik 10.000 MW yang pertama, pemerintah tengah menyiapkan proyek pembangkit susulan yang juga sebesar 10.000 MW. Proyek pembangkit listrik 10.000 MW kedua ini butuh dana Rp 100 triliun.

“Lelang akan dimulai mungkin tahun 2009,” ujar Ketua Tim Harian Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik 10.000 MW Yogo Pratomo usai rapat koordinasi dengan Wapres Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (4/6/2008).

Baca entri selengkapnya »

Komentar (1)

Betz Limit (Hukum Betz) pada Energi Angin

Pada tahun 1919 seorang fisikawan Jerman, Albert Betz, menyimpulkan bahwa tidak akan pernah ada turbin angin yang dapat mengkonversi energi kinetik angin ke dalam bentuk energi yang menggerakkan rotor (kinetik) lebih dari16/27 (59,3%). Dan hingga hari ini hal tersebut dikenal dengan Betz Limit atau Hukum Betz. Batasan ini tidak ada hubungannya dengan ketidakefisienan pada generator, tapi lebih kepada bentuk turbin angin itu sendiri. Kok begitu ya ? Begini ceritanya..

Baca entri selengkapnya »

Komentar (1)

Bagaimana Turbin Angin Bekerja ?

Sebagai salah satu energi alternatif yang terkenal. Energi angin sudah cukup lama digunakan didunia ini. Tercatat dalam dunia modern negara2 Eropa terutama Belanda telah menggunakannya. Modal awal yang cukup rendah dengan hasil yang cukup menggembirakan. Membuat energi Alternatif ini menjadi primadona dibanyak negara (lihat tulisan sebelumnya).

Namun bagaimana sih prinsip kerja dari turbin energi itu sendiri. Perhatikan gambar dibawah ini :

Baca entri selengkapnya »

Komentar (4)

Menilik Peta Energi Angin di Indonesia

Berikut adalah peta energi angin di dunia didapat dari galileoscientific.

Kalau dilihat besarnya angin di Indonesia ternyata kita masih masuk ke nomor 1 dengan kecepatan angin <5,9m/s artinya energi listrik yang dihasilkan masih cukup memadai namun tidak optimal.

masih dari website yang sama. Dengan pendirian pembangkit Listrik Angin setinggi 25 m dibutuhkan dana 15.000 – 18.000 euro atau sekitar 210 jt – 252 jt rupiah. Hmmm cukup mahal tapi gak lebih mahal dari pada mobil dinas DPR dan konco2nya. Coba anggota dewan yang jumlahnya hampir 1000 itu dikonversi ke pembangkit listrik tenaga Angin. Maka setiap 5 tahun kita sudah dapat membangun 1000 Pembangkit Listrik Tenaga Angin. Kalau satu turbin menghasilkan 10 MW maka dihasilkan 10.000 MW. Dari pada dibeliin mobil yang boros bahan bakar.

Tinggalkan sebuah Komentar

Older Posts »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.